Kamis, 29 September 2016

Siapa, darimana, dan untuk apa yang disini..

27 desember 1992 
Di hari minggu itu, ada seorang wanita hebat yang berjuang hidup dan matinya, yang 9 bulan lamanya mengandung seorang anak perempuan yang kemudian saat itu di beri nama DESILINA. Iya DESILINA aja gak pake embel-embel family name atau last name. Maklum, mungkin karena orang tua gue yang gak ribet dan gamau pusing atau mungkin udah mentok aja mau kasih nama apa wkwkwk kalo di tanya ada artinya gak nama km? YAH ADA DONQQ arti dari nama gue DESI itu artinya desember LINA itu dari kata LINE yang artinya garis jadi DESILINA itu artinya GARIS DESEMBER.... Gila!!! Keren juga orang tua gue -_- terus kalo udah garis desember ya kenapa gitu ya kan? Itu dia makanya gue bilang keren! Karna jawabannya gak ada yang tau -_- 
Oke skip...

ini foto jaman belum kenal gadget dan beratnya hidup

Masa anak-anak gue ya gak miris-miris banget lah, alhamdulillah gizi terpenuhi dan bahagia tinggal bersama orang tua lengkap, dengan nenek dan ke 5 adik kandung.. Masa anak anak gue bisa di bilang masa dimana tiap hari kerjanya cuman makan, tidur, main dan main.. Saking keasikan nya main terus sampai akhirnya lupa kalo seorang manusia yang baik itu harus mempunyai ilmu dan pendidikan yang baik pula, akhirnya waktu tahun 1998 gue baru sempet mengenyam pendidikan awal taman kanak2. Waktu itu umur gue udah 6 tahun padahal temen2 seangkatan gue masih umur 4 tahun semua jadi bisa di bilang gue ini keasikan main sampe telat sekolah, yang berujung sampe sekarang gue jadi paling tua aja di antara temen temen seangkatan..

SD, SMP, SMA Alhamdulillah semua masa masa mengenyam pendidikan itu udah gue jalan dengan baik ya walaupun ga pernah dapet ranking 10 besar di kelas dan bahkan masuk 10 besar ranking dari bawah :( tapi tetep bersyukur se enggaknya waktu lulus sma sudah bisa apal perkalian dan pembagian dasar-_-

SD, SMP itu bener bener masa dimana gue ngerasa jadi remaja yang sempurna dan bahagia, banyak teman dan belum pernah berpikir rumit. Yang ada hanya ngabisin masa remaja untuk senang senang dan main main..

Tibalah masa di saat gue nginjak pendidikan menengah atas, otak pun sudah mulai berpikir banyak, tentang beratnya hidup dan beratnya mendapatkan pendidikan yang tinggi. Saat itu, gue udh mulai penjurusan pendidikan sosial atau alam, yang mana kecenderungan gue adalah ilmu sosial tapi karna tuntutan dari papa saya yang mengharuskan mengambil ilmu alam, akhirnya dengan terpaksa gue ambil jurusan ipa padahal bukan sama sekali yang gue inginkan tapi karna tuntutan orang tua apa lagi papa ya gue ga punya pilihan lagi, 2 tahun ngerasain belajar ilmu pengetahuan alam tanpa benar2 belajar dan memasukkan ke dalam otak karna merasa bukan gue banget. Tapi alhamdulillah masih bisa lulus UN SMA dengan nilai yang cukup baik.
ini foto jaman SMA lengan masih kecil dan foto skrg huhu


Akhirnya tiba saatnya pemilihan perguruan tinggi negeri waktu itu sekitar tahun 2012 gue yang notaben nya ga mengerti ilmu alam sama sekali itu pun akhirnya cuman iseng iseng aja ikut test perguruan tinggi negeri ya dan akhirnya gak keterima perguruan tinggi negeri apapun... -_-

Akhirnya orangtua gue berpikir lebih baik kuliah langsung di luar negeri dengan biaya yang gak jauh berbeda dari pada kuliah di swasta indonesia..

Nah salah satu syarat untuk sekolah di luar adalah harus ada sertifikat bahasa inggris IELTS dengan nilai 6,0 akhirnya setelah 2 tahun dan udah mencoba 3x test akhirnya gue lulus juga dengan nilai IELTS 6,0 

Tapi, pada akhirnya...

Gue dapat pelajaran besar dalam hidup, yang mana hidup itu kadang gak berjalan sesuai dengan keinginanan atau harapan kita. Singkat cerita setelah kurang lebih 2 tahun gue mencoba untuk lagi dan lagi mengikuti keinginin orang tua gue, setelah 2 tahun struggling mencoba mengesampingkan ego dengan mencoba mengikuti keinginan orang tua saya untuk belajar di luar negeri akhirnya gue pun mulai serius untuk mendapatkan sertifikat ielts dengan nilai 6,0 tersebut. Dari coba les di jakarta sampai coba ambil kelas di kampung inggris pare, namun tuhan berkehendak lain. Setelah semua yang gue laluin dari gue gak niat sama sekali sampe yang akhirnya tercapai nilai IELTS gue dan udah persiapan mau berangkat ke NEW ZEALAND untuk study di sana dengan jurusan perhotelan, namun ternyata kondisi kesehatan ayah gue semakin memburuk. Ayah gue memang belakangan sejak tahun 2011 sudah mengidap penyakit parkinson yang mana menyerang sistem syarafnya dan membuat dia lemah untuk menggerakkan organ tubuhnya, tapi kondisinya semakin memburuk ketika gue dalam persiapan keberangkatan kuliah ke luar negeri. Ayah hanya bisa terbaring di kasur dengan kondisinya yang semakin melemah. Saat itulah kami sekeluarga membuat keputusan, yang mana keluarga saya memiliki rekan kerja dari new zealand, beliau adalah owner salah satu perkebunan di new zealand dan kebetulan bisnis orang tua saya adalah memberangkatkan pekerja indonesia ke sana. Singkat cerita, di dalam keluarga saya saat itu yang bisa berbahasa inggris fasih adalah hanya ayah dan gue. Dan saat itulah, mungkin mr ashish (partner kerja) sudah mendapatkan firasat buruk tentang kondisi kesehatan ayah. Saat itu beliau juga lah yang meminta gue untuk menggantikan posisi ayah dalam membantu bisnis keluarga saya dan dia meminta saya untuk membatalkan niatan untuk study ke new zealand. Saat itu yang gue rasain adalah hancur, gue berpikir 2 tahun mati2an untuk dapetin ini semua tapi semuanya gagal, gue ngerasa waktu gue habis dengan sia-sia dimana temen2 gue udah mau urus skripsi tapi gue blm kuliah sama sekali. Tapi, kemudian gue mulai berpikir dewasa bahwa mungkin ini semua sudah di rencanakan dengan baik oleh yang diatas. Seperti yang gue bilang tadi hidup itu gak selalu berjalan sesuai keinginan atau rencana. Akhirnya gue dan keluarga merubah rencana, gue membatalkan study gue di luar dan mencoba mendaftar ke perguruan tinggi swasta di jakarta yang mana bukan lain ada kampus kesayangan gue saat ini di THE LONDON SCHOOL OF PUBLIC RELATIONSHIP


Dan...

Hari pertama kuliah pun tiba, pada tanggal 8 september 2015
lagi lagi, hidup tidak seperti apa yang gue inginkan..
disaat teman2 seangkatan gue lagi seneng2 nya kuliah hari pertama tapi gue berakhir di ruang ICU,
iya di ruang ICU :) Saat itu kondisi kesehatan ayah gue kritis, ayah sudah 2 hari masuk ruang ICU, saat itu gue adalah mahasiswa baru yang sangat hancur, sedih dan terpukul. Ayah divonis mengidap infeksi paru2 parah yang sudah merusak organ2 tubuhnya, mungkin karna kondisi metabolismenya yang buruk karna penyakit parkinson dan darah tingginya. Ayah tidak sadarkan diri berhari hari di rs, dan itulah gue mulai marah sama tuhan. Sempet terucap di mulut " yaallah apa yang km mau dengan semua ini, kenapa saat hari pertama kuliah pun km buat semuanya begini" saat itu gue hancur sehancur-hancurnya. teringat bagaimana keinginan besar ayah saya melihat saya kuliah tapi di hari pertama gue kuliah keadaan malah memburuk tapi saat hari pertama gue masih menyempatkan datang ke kampus dengan izin mama. Selasai kuliah pun gue langsung ke rumah sakit dan menengok keadaan ayah gue. Disitulah keluarga besar gue sangat terpukul, kami di hadapkan pada pilihan yang sangat rumit. Percayalah, ini adalah keputusan terumit dan masalah terumit dari yang kalian hadapin. Saat itu keluarga saya diberitahu oleh dokter, bahwa kemungkinan hidup ayah gue cmn 4 persen. dokter memberikan keputusan kepada keluarga gue apakah ingin tetap di rawat di ruang ICU dengan kondisi tersebut dan baiya yang besar, atau kah di bawa pulang kermh dengan penggunaan alat medis, atau di ikhlaskan saja. Kalau di bawa pulang kerumah keluarga pun suatu hari harus ada yang berani membuka semua alat medisnya jika kondisi nya semakin memburuk. Saat itulah gue gak bisa berkata-kata selain menangis dan meminta yang terbaik untuk ayah saya. Bisakah kalian bayangkan? Bagaimana posisi keluarga saya pada saat itu? Siapa yang tega melepas semua alat medis di tubuh ayah gue dengan tangan kami sendiri? Saat itu gue bener-bener ga sanggup untuk tetap berada di Rumah sakit, gue coba untuk pulang kerumah untuk istirahat dan menganggap ini semua hanya mimpi, tapi sampai rumah yang ada tidur pun ga tenang, tidur bangun tidur bangun, dan saat itu saudara gue ketok2 pintu kamar gue. Gue udah tau sebenernya saudara gue mau ngomong apa. Tapi di situ gue terbangun, cuman bisa nangis teriak2 dan menyuruh saudara gue untuk tidak masuk ke kamar gue. Setelah beberapa menit akhirnya gue beraniin untuk membuka pintu dan melihat saudara dan om saya sudah siap2 ke rs. Saat itulah gue tanya ke mereka apa benar ayah sudah tidak ada dan mereka pun menangis dan memeluk gue agar gue mengikhlaskan kepergian ayah.. sesampainya di rumah sakit.. Mama sudah di kursi duduk lemah dan memeluk gue. untuk yang terakhir kalinya gue melihat wajah ayah. Putih bersih dan terlihat dia sudah tidak menahan sakitnya lagi. Saat itulah gue berbisik di kupingnya " Ayah, maafkan semua salah Desi, Terimakasih untuk kasih sayang ayah selama ini, perhatian, dan semua yang udah ayah lakuin buat Desi, maaf Desi ga bisa kuliah di luar sesuai keinginan ayah. Semoga sekarang ayah ga sakit lagi dan tenang di sana, Desi sayang ayah"


foto saat ayah masih sehat tapi sudah mengidap penyakit parkinson

foto saat ayah masuk rs dan masih sadarkan diri bersama adik saya yang paling kecil

foto ayah bersama dengan keluarga



Setelah kepergian ayah, 
Gue mulai belajar untuk menggantikan posisi ayah membantu mama, mengurus ke 5 adik gue, yang mana 2 di antara adik gue kebetulan mempunyai kekurangan, salah satu adik gue seorang tunarungu, dan satu lagi memiliki kekurangan daya pikir. Saat itu lah gue mulai berpikir dewasa, belajar untuk megesampingkan ego dan membantu bisnis orangtua gue yang alhamdulilah sampai saat ini masih lancar. Banyak pelajaran yang gue dapet dari almarhum ayah, saat beliau masih ada, setiap hari yang ia lakukan adalah menasehati gue, ayah selalu bilang, " desi, suatu saat kalau ayah ga ada km yang gantiin ayah ya bantu mama mu urus adek2 dan kerjaan, km harus jadi anak pintar jangan takut dengan sulitnya hidup, jangan cengeng dan km adalah anak pertama ayah percaya km bisa laluin semuanya" dan pelajaran yang bisa gue ambil adalah, itu lah sebabnya selama ini almarhum ayah selalu memikirkan pendidikan gue, dari kecil beliau selalu mendorong gue, untuk bisa jadi yang terbaik, mulai dari di paksa masuk IPA sampai kuliah di luar negeri. Semuanya yang dia lakukan adalah persiapannya untuk mendidik gue supaya bisa menjadi pintar seperti ayah dan bisa menggantikan posisinya. Dan saat itulah gue mulai belajar untuk lebih dewasa, dan membantu mama. Mama juga pernah kasih tau " Desi, km tau ga? sebelum ayah tidak sadar dia selalu panggil dan cari km, banyak anaknya yang tunggu tapi yang dia panggil dan cari selalu km? km tau kenapa? karna di pikirannya km lah yang menggantikan dia" :) Saat itulah gue mulai mengingat semua yang ayah lakuin, setiap harinya sebelum masuk rumah sakit ayah selalu melihat ke atap langit, tatapan kosong dan yang dipikir hanyalah bagaimana mendidik gue supaya bisa menggantikan posisi dia, iya :) itu lah yang dia pikirkan setiap harinya sampai saat ayah sudah tiada..

dan inilah untuk apa saya disini,
Saya disini untuk menjadi pribadi yang pintar seperti almarhum ayah, menjaga adik2 saya dan membantu pekerjaan orang tua...
Foto bersama mama dan adik2 saya


1 komentar: